Serbuan Maut ala Barcelona vs Chelsea
Misi untuk menangkap penjahat berbahaya di sebuah blok apartemen
berlantai 30 yang tak tersentuh, 20 tim elit kepolisian berinisiatif
untuk menangkap kepala geng yang telah meresahkan masyarakat tersebut.
Namun apalah daya saat memasuki lantai enam, bukannya 20 tim SWAT itu
bisa mengobrak-abrik sarang kegelapan malah yang ada mereka sendiri yang
terperangkap. Dihujani rentetan senjata api oleh kawanan penjahat serta
tikaman pisau dan pedang yang tiada henti, misi penyerbuan tim SWAT
berbalik menjadi penyelamatan untuk diri mereka sendiri. Di saat tiada
lagi jalan keluar untuk bertahan hidup karena akses satu-satunya pintu
masuk yang mereka lewati telah dijaga ketat. Tiada pilihan lain untuk
tim SWAT yang tersisa agar segera melakukan serangan balik ke jantung
pertahanan musuh yang menjadi pusat pengendalian agar bisa mengalahkan
semua penjahat yang ada!
Kericuhan antar kedua tim
Usai menonton pertandingan semifinal kedua antara Barcelona versus
Chelsea sangatlah geregetan, alias deg-degan sepanjang 90 menit. Hampir
sama dengan di film The Raid yang berdurasi 100 menit penuh dengan
serangan dan pertumpahan darah. Laga antara Barcelona melawan Chelsea
benar-benar mewakili dari apa yang ada di film The Raid, dimana dua
puluh pasukan elit bertahan mati-matian dari serangan kejam penjahat di
setiap lantai apartemen.
Antara apartemen berlantai 30 dan stadion Camp Nou
Begitu juga dengan pertandingan yang berlangsung di Camp Nou, 24 April
lalu saat Barcelona sangat dominan dalam menekan Chelsea hingga
menguasai separuh lapangan. Apalagi ketika sang kapten John Terry
terkena kartu merah hingga keluar lapangan dan Chelsea harus bertahan
mati-matian dengan sepuluh pemainnya untuk menghadapi serangan mematikan
ala tiki-taka Barcelona.
Statistik berbicara dengan Barcelona menguasai penguasaan bola 73%
berbanding 27% dari Chelsea, untuk tendangan pun amat jomplang yaitu 26
dan 7 diantaranya mengarah langsung ke gawang Petr Cech termasuk
tendangan penalti Messi yang gagal terkena mistar serta tiang gawang.
Sementara itu para penyerang Chelsea sendiri yang di pimpin oleh Drogba,
Ramires serta Lampard hanya mampu melepaskan 7 tendangan dengan 3
diantaranya mengarah langsung ke gawang. Untuk efektifitas tentu Chelsea
lebih baik dari Barcelona dimana anak asuhan pelatih Di Matteo sanggup
membobol dua kali gawang Victor Valdes di menit-menit akhir babak
pertama dan babak kedua.
Tekel keras John Terry diusir wasit
Mirip dalam film The Raid yang mana para penjahat kelas kakap dengan
persenjataannya yang lengkap terus menyerang tim SWAT hingga hanya
menyisakan beberapa personel saja termasuk tewasnya sang pimpinan,
Sersan Jaka di tangan Mad Dog. Begitu pun dengan pertandingan kemarin
dimana pemain Chelsea harus rela ditinggalkan sang kapten klub, John
Terry akibat kartu merah karena pelanggaran ke arah penyerang Barcelona,
Alexis.
Gol balasan Ramires seperti Aksi dukungan Rama kepada rekannya di tim SWAT
Disaat genting seperti itulah datang penyelamatan dari kedua pemain
Chelsea dengan gol Ramires di menit ke 45 serta gol Torres ketika waktu
normal sudah habis dan memasuki masa injury time. Sama halnya dengan
keberadaan Rama di tim SWAT yang masih baru, bahkan ditempatkan dalam
barisan paling belakang oleh Sersan Jaka saat di tolak Letnan Wahyu.
Begitu juga dengan Torres yang masuk menggantikan Drogba pada menit ke
80 atau sepuluh menit menjelang waktu normal berakhir.
Baik Rama maupun Torres sama-sama menjadi pahlawan untuk timnya
masing-masing di The Raid dan Chelsea, apalagi terjadi kesamaan alur di
cerita film serta lapangan mengenai kisah mereka berdua. Rama yang
mempunyai Kakak bernama Andi yang juga termasuk dalam kelompok Tama
Riyadi dan Mad Dog, geng penjahat dalam film The Raid. Begitu juga
dengan Torres yang mempunyai rival di Barcelona yaitu Iniesta namun
bersahabat di luar lapangan sekaligus rekan setim ketika bahu-membahu
membela Spanyol. Gol Iniesta di final Piala Dunia 2010 lalu berkat
assist dari Torres yang masuk sebagai pemain pengganti. Serupa dengan
gol semata wayang Torres saat melawan Jerman di final Piala Eropa 2008
lalu yang juga didahului oleh aksi menawan Iniesta.
Layaknya sebuah cerita yang sudah diskenariokan, di akhir kisah film The
Raid tim SWAT berhasil mencapai misinya dengan membunuh Tama sang
pimpinan geng sekaligus menghancurkan markasnya di lantai 30. Begitu
juga dengan hasil di lapangan saat Chelsea berhasil menahan seri 2-2
Barcelona dan unggul agregat menjadi 3-2 untuk memastikan langkah mereka
menuju final Liga Champions 2011/2012.
Sersan Jaka menjelaskan misinya menaklukkan Tama Riyadi
Chelsea sendiri dibawah asuhan pelatih Roberto Di Matteo berhasil
menuntaskan dendam pribadi mereka saat kalah menyakitkan dalam
pertandingan semifinal liga Champions 2008/2009, dimana keputusan
kontroversial wasit Ovrebo yang terlalu memihak Barcelona. Juga
tercapainya misi untuk meruntuhkan dominasi Barcelona yang dianggap
superior karena menguasai 3 trofi Liga Champions dalam enam tahun
terakhir di musim 2005/2006, 2008/2009 dan 2010/2011.
Mirip dengan film
The Raid yang mempunyai tiga tokoh antagonis tak tersentuh aparat
kepolisian yaitu, Tama Riyadi, Andi dan Mad Dog. Begitu juga dengan
Barcelona yang dianggap sebagai tim dari luar planet karena kehebatannya
dalam bermain tiki-taka dengan Pep Guardiola sebagai pelatih, Lionel
Messi pemain terbaik dunia dan seorang yang harus gol serta Xavi
Hernandez jenderal sesungguhnya di lapangan.
Sebagai pimpinan baik John Terry maupun Sersan Jaka pun akan merasa puas
karena perjuangan timnya berhasil mencapai target walaupun keduanya
sendiri menjadi korban. John Terry yang diusir wasit dan menjadi martir
semangat untuk kesepuluh rekannya dalam menghadapi gempuran Barcelona
serta Sersan Jaka yang tewas dan diseret jasadnya oleh Mad Dog.
Gol pamungkas Torres sama dengan keberhasilan Rama di film The Raid
* * *
the heroes FERNANDO TORRES
Ilustrasi: Guardian, Cineplex21, Uefa