Senin, 03 Juni 2013

TEORI KONSPIRASI PENDARATAN MANUSIA PERTAMA DI BULAN

ada tanggal 15 Februari 2001 stasiun TV FOX (disiarkan kembali 2005 oleh Star World Philipines) menyiarkan sebuah program dengan judul Conspiracy Theory: Did We Land on the Moon?. program ini memberikan bukti-bukti bahwa NASA telah memanipulasi berita pendaratan di bulan.
Hoax teori ini telah beredar beberapa tahun sebelumnya, namun tahun 2001 adalah pertama kalinya program ini di tayangkan kepada masyarakat.
Program TV ini diberikan kepada rakyat amerika yang memiliki dugaan yang kuat bahwa pemerintah mereka telah melakukan konspirasi melalui NASA dengan menciptakan sebuah ‘multi-million hoax’.
Walaupun di amerika sendiri kredibilitas FOX ‘agak’ diragukan, dengan hanya menampilkan hasil research yang tidak mendalam, tidak akurasi secara ilimiah dan konklusi yang subjektif, namun setidaknya acara ini telah membuka mata dan merubah sudut pandang dunia tentang pendaratan di bulan. Ini dapat dilihat dari rating siaran yang FOX yang meningkat tajam dengan adanya program ini. Di sisi lain warga amerika sendiri telah kehilangan respek terhadap integritas pemerintahan mereka.
Beberapa orang yang sangat terkemuka dalam meyuarakan hoax theory ini adalah Bill Kaysing penulis We Never Went To The MoonRalph Rene penulisNASA Mooned America, [b]David Peary dan Mary Bennett[b], co-author dariDark Moon: Apollo and the Whistle Blowers dan yang paling terbaru adalahBart Sibrel produser dari A Funny Thing Happened on the Way to the Moon. mereka adalah orang-orang amerika sendiri yang lantang menyuarakan Moon Landing as the great hoax of the century berdasarkan bukti dari foto-foto Apollo dan rekaman video serta kesaksian-kesaksian dari mereka yang terlibat dalam ‘project’ ini.
  • Kemungkinan berhasil diperhitungkan sangat kecil sehingga tidak dapat dibayangkan adanya pendaratan di bulan
Bill Kaysing mengatakan bahwa perhitungan keberhasilan pendaratan di bulan adalah 0.0017% (1 : 60,000). Sumber dari informasi ini adalah reportase yang di sediakan oleh Rocketdyne company pada akhir tahun 1950an. Lampiran ini tentu saja didasarkan pengetahuan mereka akan teknologi yang tersedia saat itu.
  • Seluruh Misi Apollo sebelum Apollo 11 Terserang Kerusakan Pada Sekitar 20,000 Bagian. Pengecualian pada Apollo 13 NASA Mengklaim Tidak Ada Masalah Teknis Pada Misi Bulan Mereka
Klaim hoax ini dikemukakan oleh Ralph Rene. Misi-misi Apollo sebelumnya terdapat begitu banya masalah yang tidak dapat di atasi oleh NASA sehingga mereka memutuskan untuk memanipulasi ini. Pengalaman dari misi-misi Apollo sebelumnya yang mengalami begitu banyak permasalah teknis dan kerusakan, maka astronot-astronot Apollo ‘dilatih’ keras untuk menghadapi masalah-masalah ini, dan pendaratan di bulan dapat berjalan dengan mulus. Amazing…
  • Jeleknya Kualitas Video Sehingga Tidak Dapat Diuji Dengan Lebih Mendalam
Video pendaratan Apollo 11 dikirim langsung ke bumi dari permukaan bulan dengan menggunakan antenna Lunar Module dan power supply. Sehingga terdapat batasan bandwidth yang dapat di transmisi. Sehingga Apollo 11 hanya dapat menggunakan gambar hitam-putih, slow-scan TV camera dengan scan rate 10 frame per detik pada 320 baris per frame. Untuk dapat menyiarkan situasi bulan kepada bumi maka gambar-gambar ini perlu di convert ke standart TV komersial. Di amerika, standar EIA adalah 30 frame per detik pada 525 baris per frame. Tayangan yang di kirim dari bulan ditampilkan pada monitor hitam-putih 10 inch dan sebuah kamera vidicon di arahkan ke layer monitor kemudian di scan menggunakan standar EIA.
Dalam sebuah misi yang sangat ambisius ini, NASA kehilangan kapabilitasnya dengan tidak mampunya Apollo 11 mengirimkan tayangan high-quality. Misi berikutnya, dimulai dengan Apollo 12 NASA membekali astronot mereka dengan kemampuan bandwidth yang lebih besar sehingga dapat mengirimkan gambar bewarna langsung ke bumi.
  • Tidak Akan Ada Gambar Yang Diambil Dari Bulan Karna Film Akan Meleleh Pada Temperatur 250°
Astronot Apollo pada saat itu menggunakan sebuah film transparansi khusus yang dibuat oleh Eastman Kodak dibawah kontrak NASA. Layer dari emulsi fotosensitif ini diletakan dalam ESTAR yang terbuat dari polister, yang biasanya di gunakan dalam pembuatan film bergerak. Titik leleh ESTAR adalah 490° F, namun penyusutan dan distorsi dapat terjadai pada temperatur 200° F. dan film ini tidak pernah diuji dalam temperature seperti ini. Kameranya sendiri disimpan didalam sebuah tempat khusus yang di disain untuk menjaga film agar tetap dingin.
Situasi di bulan yang tanpa udara sangat berbeda dengan situasi oven di dapur kita pada umumnya. Tanpa konveksi dan koduksi, maka panas dapat tersebar karna radiasi.
  • Setiap Foto Yang Ditampilkan Dibuat Dengan Sangat Sempurna, Terfokus, dan di Ekspos. Kenyataanya Astronot Menggunakan Kamera Tanpa Viewfinders dan Pengatur Cahaya
Artinya adalah, astronot tidak dapat mengambil gambar yang begitu sempurnanya. Jadi jawaban yang sangat jelas adalah mereka tidak pernah mengambil foto di bulan, ini adalah contoh dari gambar yang diambil di bulan
Bandingkan dengan foto yang di ambil tanpa menggunakan viewfinders dan pengatur cahaya
Kedua foto ini dikeluarkan oleh NASA. Mungkin saja para astronot ini telah meluangkan banyak waktu mereka untuk: practice, practice dan practice. Mungkin tidak ada manusia yang pernah mempersiapkan diri mereka sebaik para astronot Apollo.
  • Langit yang Gelap Harusnya Penuh Dengan Bintang-Bintang, Namun Tidak Satupun yang Nampak Pada Setiap Foto Apollo
Untuk alasan yang sama foto bumi yang di ambil dari bulan pun kurang menampilkan bintang. Beberapa orang menyanggah hal ini dengan mengatakan, bahwa bintang-bintang itu ada di sana namun tidak keliahatan, tapi mereka lupa bahwa ada hal yang berbeda antar ‘melihat’ dan ‘memotret’ bintang.
Bill Kaysing mengatakan bahwa NASA telah berdusta dengan mengatakan bahwa bintang tidak dapat di lihat di ruang angkasa, pada kenyataan NASA kemudian melepaskan foto-foto yang juga memperlihatkan adanya bintang.
Foto Endeavour diambil dari flight deck menunjukan foto aurora pada waktu malam diambil dari pesawat astronot (bukan Apollo 11).
Kita masi bias melihat dengan jelas dan membedakan mana aurora dan mana bintang.
Astronot Apollo sendiri pun tidak pernah menyatakan bahwa mereka melihat bintang di langit, karna terangnya permukaan bulan sehingga mereka tidak dapat melihat cahaya bintang. Ini sama hal nya kita ingin melihat bintang pada malam hari namun mata kita ‘tertutup’ dengan cahaya senter. Di sisi lain, astronot Gene Cernan mengatakan bahwa saat dia berada dibayangan Lunar Module Apollo 17, iada dapat melihat dengan jelas beberapa bintang ketika ia berada diluar.
  • Bayangan Yang Dihasilkan Pada Pemukaan Bulan Harusnya Paralel. Beberapa Bayangan Pada Foto Apollo Tidak Paralel. Indikasi Bahwa Sumber Cahaya Bukan Hanya
Sanggahan yang muncul adalah, ini hanya masalah persepektif saja. Sebuah foto adalah wujud 2 dimensi dari dunia yang 3 dimensi, meskipun pada beberapa film-film komersil yang dihasilkan menampilkan hasil bayangan yang tidak paralalel.
Sanggahan yang lain adalah bahwa tidak paralelnya bayangan yang dihasilkan bisa jadi karna permukaan yang berbeda, misalnya satu bayangan jatuh di daerah yang rata sedangkan satunya lagi jatuh pada daerah yang miring, jika dilihat dari samping maka akan tampak 2 bayangan yang tidak parallel. Namun jangan lupa, bila kedua bayangan ini dilihat dari atas maka tetap akan tampak bayangan yang parallel.
Gambar yang diambil dibumi ini merupakan contoh bahwa perspektif dapat menyebabkan bayangan yang tidak parallel.
  • Panjang Bayangan Yang Berbeda Karena Sumber Cahaya Yang Berbeda
Datang dari David Percy yang memuculkan gambar ini pada websitenya
Percy mengatakan bahwa beda permukaan bulan saat foto ini diambil bukanlah alasan mengapa terdapat dua bayangan yang berbeda ukuran. Karena tempat dimana Apollo 11 berada adalah rata.
  • Beberapa Foto Apollo Memperlihatkan Sumber Cahaya Misterius Yang Kelihatan Seperti Spotlight Studio
Pembawa ide moon landing adalah hoax, menggunakan foto-foto ini sebagai bukti mereka.
Bila bayangan tercipta dari satu sumber cahaya maka bayang tersebut akan menutupi secara penuh seluruh daerah dibawahnya.
Jika kita memperhatikan daerah 6 dan J, kita tidak lagi melihat bintang. Pada area K kita akan menemukan salah satu sisi dari LEM yang terbungkus dengan bayangan, tapi symbol bendera amerika seperti di terangi.
  • Hanya Ada Dua Astronot Yang Berjalan di Bulan Dalam Setiap Misi Apollo, Namun Ada Beberapa Foto Dimana Astronot Memantulkan Gambar Astronot Lain Yang Tidak Memiliki Kamera. Siapa Yang Mengambil Foto??
Astronot Apollo Membawa kamera yang dipasang di depan baju angkasa mereka (daerah dada). Pada foto Apollo 12 ini, astronot Alan Bean di foto oleh Pete Conrad, kita dapat melihat dengan jelas kamera Bean ganjal di dadanya. Perhatikan lebih jelas pantulan Conrad pada visor Bean, terlihat kamera Conrad yang di operasikan dengan tangan kananya.
Gambar ini diambil saat Alan Bean memegang sebuah Special Environment Examiner Container. Jika foto ini diambil oleh kamera dada Conrad maka helm Lseharusnya tidak terlihat.
Bayangan yang dipantulkan pada visor Bean M berada pada arah yang berbeda, tidak pada garis parallel yang seharusnya.
Jika kita melihat pada Enviromental Sampler yang sedang di pegang Bean N, pantulan datang dari sumber cahaya yang bukan matahari, tapi itu bisa saja cahaya dari baju ruang angkasa. Namun pada 7, terlihat sumber cahaya lain.
  • Pada Sebuah Foto Apollo 11 Buzz Aldrin, Horizon Terletak Pada Garis Mata; Sehingga, Jika Kamera Dilekatkan Di Dada Neil Amstrong, Horizon Harus Berada Pada Permukaan Dada
Ini adalah foto yang paling banyak di cetak dari keseluruhan foto yang di bawa dari bulan.
Foto yang diambil di atas permukaan bulan pada ketinggian yang sama; bagaimanapun juga bila Armstrong berdiri pada permukaan yang lebih tinggi makan permukaan horizon akan turut naik. Jika kita meliahat bayangan Armstrong pada visor Buzz Aldrin, kita melihat horizon pada dadanya.
Ini manampakan posisi Armstrong yang berdiri di dataran yang lebih tinggi dengan dadanya yang berada hampir sama dengan mata Aldrin.
Perhatikan area B ada bayangan yang terpancar pada baju angkasa Buzz Aldrin. Sekali lagi, jika matahari adalah satu-satunya sumber cahaya di bulan, maka bayangan ini harusnya menjadi lebih gelap.
Daerah C perhatikan permukaan bulan menghilang di kejauhan sampai pada horizon bulan. Pada tempat tampa atmosfir, maka daratan tidak akan menghilang, tapi akan tetap terlihat tajam sampai pada horizon bulan.
Lihat daerah D secara jelas kita dapat melihat satu bentuk struktur terpantul dari helm Aldrin, ga tau apa itu, tapi itu ada di sana.
  • Jejak Di Permukaan Bulan
Pada gambar ini (perhatikan daerah yang dilingkar). Jejak Lunar Rover ini sangat jelas terbentuk. Pada kenyataanya kita harus memiliki campuran senyawa dan air untuk dapat menciptakan jejak yang jelas seperti itu.
Jika kita melihat batu yang diberi label R akan terlihat sebuah huruf ‘C’ terpahat diatas batu. Apakah ada yang lupa mindahin?
Sebagaimana ketika take off make Luna Module juga akan mengeluarkan ‘hembusan’ yang kuat ketikan akan landing di bulan. Bagaimana bisa kita akan mendapatkan sebuah foto jejak kaki pertama manusia di bulan?
  • Cross Hair Yang Terdapat di Depan Dan Belakang Image
perhatikan terdapat dua cross hairs pada gambar di atas. Cross hair seperti ini muncul di kebanyakan foto bulan. Seharusnya Cross hair ini di letakan di kamera dan film. Tapi jika kita melihat lebih dekat pada cross hair di sebelah kiri, tampaknya dia berada di belakang Lunar Rover.
  • Bendera yang Berkibar
bendera dapat berkibar karena… ?
dan seharusnya di bulan tidak ada… ?
  • Mengapa Mereka Memalsukan Itu
Uni Soviet telah membuat kemajuan lebih awal untuk lomba menuju Bulan. Uni Soviet telah meluncurkan manusia pertama ke ruang angkasa pada tahun 1961 dan 1963 dan juga merupakan manusia-manusia pertama yang mengorbit bumi.
Bersama dengan itu pemerintah amerika harus membuat sebuah catatan lain sesuai dengan janji Presiden Kennedy yang menyatakan bahwa amerika akan mendaratkan manusia di bulan pada akhir era 1960an.
Banyak orang yakin bahwa NASA akan menyatakan ketidakmungkinan membawa manusia ke Bulan dengan teknologi yang tesedia saat itu.
Kemenangan atas Uni Soviet akan memberikan keuntungan untuk proyek ruang angkasa America.
Foto-Foto
NASA tidak pernah memberikan penjelasan terhadapa beberapa kesalahan yang terdapat pada foto-foto yang di ambil Apollo. Walaupun begitu banyak pertanyaan yang bermunculan.
Suara
Kita tidak akan mendengar suara mesin pada saat pendaratan di bulan pada saat astronot membuat percakapan mengenai jarak tersisa ke permukaan, ia hanya berada beberapa kaki jauhnya dari mesin rocket yang harusnya memiliki daya dorong 10000lb.
Hal lain adalah kenyataan bahwa ketika ruang control memberikan pertanyaan, astronot Apollo memberikan jawaban secara instant tanpa delay. Ini tampaknya aneh karena dengan teknologi tahun 1990an pun masih terdapat delay satelit yang menghubungkan inggris dan amerika. Ada delay sekitar 0.7 detik dari London ke California jadi bagaimana mungkin ada balasan langsung percakapan langsung antara ruang control dan bulan?
Ada beberapa bukti bahwa juga bila manusia berada di ruang angkasa maka akan terjadi perubahan suara sehingga perlu di analisa terlebih dahulu untuk mendapatkan suara normal, dan 7/10 orang mengatakan suara terdengar seperti seseorang yang sedang membaca script.
Radiasi
Seorang penulis amerika telah membuat penelitian dan mengatakan bahwa pesawat ruang angkasa Apollo memerlukan dinding setebal 2 meter untuk menghindari radiasi kosmik yang dapat membakar astronot di dalamnya.
Dan juga perlindungan yang sama diperlukan untuk semua alat yang di gunakan seperti film dan kamera. Pernyataan resmi NASA mengatakan bahwa mereka telah ‘melapis’ kamera dengansejenis chat almunium.
Pengeluaran untuk seluruh program Apollo berkisar $25.4 trilyun pada tahun 1969 ($135b trilyun pada tahun 2005). Lihat budget NASA (termasuk Mercury, Gemini, Ranger, Surveyor, Lunar Orbitar, dan program Apollo), hanya pesawat ruang angkasa dan roket Saturn sekitar $83 trilyun tahun 2005 (Pesawat Apollo bernilah $28trilyun, Saturn I, IB, V bernilai sekitar $46 trilyun tahun 2005)Motives
Beberapa motif yang bisa saja melatar belakangi amerika membiayai proyek Apollo adalah:
  1. Pengalih Perhatian. Pemerintah amerika menggunakan aktifitas bulan ini untuk membawa perhatian dunia dari keterlibatan amerika pada perang Vietnam.
  2. Daya Tarik Perang Dingin. Pemerintah amerika menyadari pentingnya memenangkan perlombaan ke Bulan dengan USSR. Pergi ke Bulan, jika hal ini mungkin, akan jadi sangat beresiko dan mahal. Maka akan lebih mudah untuk memalsukan pendaratan ini untuk mendapat kesuksesan.
  3. Uang. NASA mengumpulkan dana sekitar $30 trilyun untuk berpura-pura pergi ke bulan. Ini di gunakan untuk membayar begitu banyak orang, untuk menyediakan semua yang dibutuhkan. Fariasi dari teori ini, industri ruang angkasa di kategorikan sebagai politik ekonomi, seperti industri militer yang menyediakan ladang subur untuk berkembang.
  4. Resiko. Ketersediaan teknologi pada saat itu adalah kesempatan untuk mengetahui bahwa pendaratan bulan mungkin saja berhasil jika benar-benar di coba. Soviet, sebagai competitor program Bulan dengan kemampuan ekonomi, militer dan politik menjadi pesaing terdekat amerika, dapat dibayangkan bagaimana seandainnya amerika gagal mendarat dibulan. Sebagai pemenang amerika berharap untuk mendapatkan dukungan yang lebih luas di mata dunia sebagai Negara terdepan dalam teknologi.

Rabu, 15 Agustus 2012

Stephen Hawking: Tuhan dan Alien

Pernah di suatu blog saya membaca sebuah judul tulisan, ” Stephen William Hawking masuk Islam”, yang saya anggap blog itu terlalu mengada-ngada, apalagi isinya hanya dua video youtube tanpa keterangan tulisan yang jelas.
Untuk Hawking, tentu saya sangat tertarik mengikuti alasan dan kebenaran beritanya itu. Dan ketika berusaha mencari pernyataan Hawking tentang Tuhan dari berbagai sumber, saya menyimpulkan dia seorang agnostik. Hal itu saya ketahui dari berbagai informasi yang mengulas pidato dan tulisannya yang beberapa kali pernah menyebut nama “Tuhan”, tentu Tuhan bagi dia tidak akan sama dengan apa yang dipahami Islam atau mungkin juga Kristen.
Seperti pernyataanya bahwa dia religius, tapi bukan “religius” dalam arti normal, meski begitu dia percaya“Jagat raya diatur oleh hukum-hukum sains. Hukum-hukum ini bisa saja didekritkan oleh Tuhan, tapi Tuhan tidak ikut campur untuk melanggar hukum-hukum itu”.
Saya anggap pernyataan itu, Hawking percaya Tuhan, tapi dia tidak percaya ada keajaiaban di luar akal manusia di alam semesta dalam bentuk apapun, termasuk mukjizat para Nabi. Sebab itu bentuk pelanggaran hukum alam, hukum fisika khususnya. Hawking hanya menganggap alam semesta dan hukum-hukumnya diciptakan Tuhan, dan setelah itu Tuhan lepas tangan, selanjutnya alam semesta bekerja sesuai hukumnya.
Kenapa Hawking menganggap Tuhan tidak ikut campur untuk melanggar hukum-hukum itu? sebab melalui teori “Kuantum”nya “alam semesta ini tanpa pangkal ujung”, karena adanya waktu nyata (waktu manusia) dan waktu maya (waktu Tuhan).
Di waktu nyata waktu hanya berjalan ke depan dengan tetap menuju nanti, besok, lusa, minggu depan, dan selanjutnya (tidak bisa kembali). Sedangkan di waktu maya (waktu Tuhan) kita bisa pergi kemana saja menembus ruang dan waktu yang ada di alam semesta, pergi ke masa lalu dan ke masa depan, atau berkunjung ke kehidupan yang ada di planet lain dalam waktu  “seketika”.
Teori ini pernah dipakai untuk merasionalkan perjalanan “Isra Mi’raj” Rasulullah SAW. Menarik bagi saya dikaitkan dengan teori Kuantum, tapi tidak percaya sepenuhnya perjalanan Rasulullah SAW seperti itu, meski menenangkan pikiran karena lebih bisa diterima akal!
Dan yang menarik dari waktu maya menurut Hawking adalah, dimana masa depan dan masa lalu tidak ada bedanya. Maka Kiamat, sebetulnya sudah terjadi (selesai) saat alam semesta ini pertama kali tercipta dengan diawali dentuman besar (big bang). Simpelnya, kiamat sudah terjadi bersamaan dengan terjadinya dentuman besar (big bang).
Dan menurut saya, rasional jika Hawking mengatakan Tuhan tidak ikut campur melanggar hukum alam. Sebab hukum alam dianggap masih dan telah terjadi, karena kehidupan kita berada di waktu nyata, sedangkan bagi Tuhan, masa lalu sekarang dan nanti tidak ada bedanya. Jadi, Tuhan sudah selesai menciptakan dan mengkiamatkan alam ini. (menarik untuk renungan Muslim, umumnya untuk yang mengaku Tuhan ada).
Akan tetapi, pada bulan September tahun 2010, Hawking menunjukan pandangan baru terhadap alam semesta dan Tuhan. Dia mengatakan bahwa alam semesta tidak membutuhkan Tuhan untuk membangun (menciptakan) dirinya sendiri. Hawking menulis dalam bukunya, The Grand Design, bahwa “Karena adanya hukum seperti gravitasi, tata surya dapat dan akan membentuk dirinya sendiri. Penciptaan spontan adalah alasannya mengapa sekarang ada ’sesuatu’ dan bukannya kehampaan, mengapa alam semesta ada dan kita ada. Tidak perlu memohon kepada Tuhan untuk memulai segalanya dan menggerakan alam semesta.
Pandangan terbarunya itu, yang ditulis di dalam buku The Grand Design, tidak membuat saya senang (fans berat, hihihi). Karena sikapnya yang melepaskan Tuhan dalam peran alam semesta. Namun, tidak pula merubah kekaguman saya pada dirinya yang begitu berani dan tetap semangat meski kelumpuhan terus membuatnya nampak payah. Saya selalu berusaha mengikuti jalan pikiran sains meski paham agama begitu melekat di hati dan pikiran saya.


Tentang Alien dan Tuhan.
Fisikawan Inggris, Stephen Hawking: kasamaproject.org
Fisikawan Inggris, Stephen Hawking: kasamaproject.org
Jika di dalam buku “A Brief History of Time” yang diterbitkan tahun 1988, Hawking tidak menapikan turut campurnya Tuhan dalam penciptaan alam semesta. Sedangkan di buku The Grand Design yang baru terbitan tahun 2010, dia melepaskan Tuhan dari proses penciptaan alam semesta. Adanya gravitasi di alam semesta, itu menjadi salah satu alasan alam semesta tidak membutuhkan Tuhan untuk membangun dirinya sendiri.
Di buku yang terbarunya itu, Hawking bukan hanya menentang pernyataan Isaac Newton tentang adanya Pencipta di alam semesta, tapi dia juga sepertinya mau menghabisi mentah-mentah pernyataannya tentang keberadaan Tuhan di dalam bukunya yang terdahulu, “A Brief History of Time”.
Saya memang ragu memposisikan Hawking termasuk agnostik atau atheits, Percaya tuhan atau tidak. Namun, sedari awal Hawking sudah serin mengatakan bahwa Tuhan yang ia pahami, tidak sama seperti yang di pahami di dalam agama. Hal itu bisa dipahami dari penyataannya, “Tidak religius secara akal sehat” dan ia percaya bahwa “alam semesta diatur oleh hukum ilmu pengetahuan. Hukum tersebut mungkin dibuat oleh Tuhan, tetapi Tuhan tidak melakukan intervensi untuk melanggar hukum.”
Dan di banyak tempat (media), Hawking sering menggunakan kata “mungkin” untuk keberadaan Tuhan,. hal itu menunjukan perjalanan dan perjuangan Hawking yang belum menyatakan finish terhadap Tuhan, meski di bukunya “A Brief History of Time” Tuhan begitu melekat di dalam pikirannya.
Sepertinya Hawking sudah menemukan akhir perjalanan dalam teka-teki dari mana alam semesta berasal. The Grand Design, di bukunya yang ini, campur tangan Tuhan dilepaskan dari alam semesta, Hawking tidak membutuhkan Tuhan untuk menciptakan alam semesta ini. Semuanya bisa berdiri dengan sendiri, hukum gravitasi bisa membuat alam semesta ini.
Apakah lagi-lagi harus difahami secara metaforis Tuhan yang disebutkan Hawking? Saya mengabil tindakan di tulisan ini, Hawking memang sudah tidak percaya Tuhan. Sebab seringnya melihat kata “mungkin” di dalam keberadaan Tuhan ketika dia masih dianggap “percaya, agnostic”, saya mulai memberi tanda kutip pada makna “Tuhan” itu. Hawking masih mempunyai keraguan besar akan keberadaan Tuhan.
Melihat dirinya sebagai seorang ilmuwan fisika, memang wajar jika Tuhan terus diseret ke dalam kajian fisikanya yang berkaitan dengan alam semesta, yang akhirnya akan membawa kesimpulan pada “ada atau tidak” Tuhan ketika pengetahuan baru tentang sains mulai ditemukan atau lebih diyakini kebenarannya. Dan Hawking yakin alam semesta bisa berdiri sendiri tanpa campur Tuhan. Tuhan hilang di “pikiran” Hawking.
Perjalanan pikiran sains memang akan seperti itu, ketika hasil pengamatannya membawa pada kesimpulan seperti yang diyakini Hawking, alam semesta tidak membutuhkan campur tangan Tuhan, maka dia akan meyakini hal itu.  Sebab bagi Hawking, dia hanya mempercayai apa yang bisa ia amati. Dan Tuhan, tidak bisa ia amati. Maka hukum gravitasi (dan proses yang lainnya) lebih dipercaya mampu membangun alam semesta ketimbang Tuhan yang belum bisa diamati Hawking.

saya mengambil kesimpulan, Ilmuwan astrofisika Stephen Hawking sudah melepaskan Tuhan di dalam fisikanya. Spontanitas terjadinya alam semesta dan kekuatan hukum gravitasi, membuatnya yakin alam semesta berdiri dengan sendiri.
Harus diingat pula, perbincangan tentang alam semesta yang berdiri sendiri, bukan hanya terjadi di kalangan saintis, itu juga menjadi dialog panjang para filosof, dan semuanya tidak ada yang memberi kesimpulan memuaskan, menurut saya. Tentang Tuhan ada atau tidak, semuanya belum jelas, dan akan menjadi dialog yang terus berlanjut di dalam sains dan filsafat.
Ilustrasi, alien : http://www.guardian.co.uk/
Ilustrasi, alien : http://www.guardian.co.uk/
Tentang Alien
Ilmuwan Fisika Teoritis ini, Hawking, mempunyai pandangan yang sangat berani menyoal keberadaan makhluk biologis yang berada di luar angkasa, atau lebih tepatnya alien. Hawking dengan perhitungan otak matematisnya, nampaknya yakin bahwa alien yang mempunyai kecerdasan jauh melampui manusia benar-benar ada. Bahkan keberadaan mereka bukan saja menghuni di planet-planet, bisa saja di sebuah bintang, atau melayang di ruang hampa alam semesta.
Perhitungan matematika Hawking yang menganggap alam semesta begitu luas dengan 100 miliar galaksi dan belum lagi jumlah ratusan milyaran planetnya, juga memperhitungkan ruang kosong di alam semesta yang begitu luasnya, menganggap sangat rasional jika alien ada.
Sungguh pandangan yang sangat berani, menurut saya. Perhitugan matematis Hawkin ini, bukan hanya berhenti di makhluk alien itu ada dan kecerdasannya lebih baik dari manusia atau teknologinya yang lebih maju. Tapi, Hawking melanjutkan dengan pikiranya yang pesimis untuk kehidupan di Bumi, sebab keberadaan alien itu bisa mengancam kehidupan manusia.
Tidak berhenti di situ, Hawking pun menyarankan agar manusia menghentikan kontak dengan alien, sebab itu sama saja mengundang bencana ke Bumi. Sungguh pandangan yang sangat kontroversial. Padahal, belum lama ini Kompas.com menayangkan berita tentang himbauan ilmuwan bersama National Geographic agar kita mengirimkan pesan pada makhluk luar angkasa. Inti dari berita itu, Alien berarti tidak mempunyai potensi membahayakan Bumi. (Lengkapnya disini)
Hawking, menurut saya, meski menyebutkan itu hasil pemikiran matematisnya, terlalu berlebihan mendeskripsikan tentang alien, apalagi potensinya yang bisa memberi ancaman pada kehidupan di Bumi.
Saya tidak punya kata yang lebih baik untuk menanggapi pernyataan Hawking tentang alien yang terkesan canggih dan jahat selain kata “berlebihan”. Sebab apa yang dikemukakannya itu, terdengar tidak asing jika kita sering melihat film fiksi ilmiah tentang alien.
Mungkin pernyataanya tentang keberadaan alien, secara matematis alam semesta memang mempunyai banyak ruang yang leluasa untuk keberadaan kehidupan biologis selain manusia. Selain itu, teori evolusi pun sepertinya bisa memberi ruang untuk perkembangan kehidupan biologis yang bukan hanya ada di Bumi. Tidak mustahil kehidupan bernyawa bisa bertahan di kondisi yang sangat extreem karena hasil proses evolusi dan adaptasi. Selama ini, konsep kehidupan Bumi memang menjadi parameter untuk keberadaan makhluk bernyawa lainnya yang ada di luar angkasa. Sehingga planet-planet yang kondisinya berbeda dengan Bumi, selalu dianggap tidak mempunyai potensi untuk menopang kehidupan.
Hawking sepertinya berusaha meninjau jauh, tentang alam semesta saja bisa tercipta (dengan sendirinya) dan Bumi menjadi bukti “suksesnya” suatu kehidupan biologis tumbuh dan bertahan pasca ledakan besar ( Big Bang) sekitar 150 miliar tahun yang lalu. Dan “keajaiban” (baca: kemungkinan) ini, tidak mustahil terjadi di tempat lain yang ada di alam semesta, baik di planet, bintang, bulan, atau bahkan melayang di ruang yang hampa.
Saya pribadi (meski bingung), memang menerima perhitungan “peluang’ matematis Howking itu. Namun, berat rasanya harus menerima mentah-mentah pernyataanya tentang deskripsi alien yang lebih pintar dari manusia, bentuknya aneh, lebih maju teknologinya, dan juga berpotensi mengancam manusia.
Akan tetapi, ada satu hal yang sangat menarik, menurut saya. Hawking begitu yakin dan menganggapnya rasional jika alien (sekarang) memang benar-benar ada melalui perhitungan otak matematisnya. Namun, dengan otak fisikanya dia memutuskan untuk melepaskan campur tangan Tuhan pada penciptan alam semesta dan hukum-hukumnya.
Kenapa untuk alien begitu yakin sedangkan Tuhan tidak? Ini menurut saya, sebab alien berada di dalam alam semesta dan terlibat dengan hukum-hukum fisika. Sedangkan Tuhan mecakupi seluruh semesta dari penciptaan sampai pengendalian hukum-hukumnya, dan Tuhan jelas tidak bisa dijangkau dan diterapkan hukum-hukum fisika yang berlaku pada manusia. Karena itu  Hawking tidak bisa menerima Tuhan harus terlibat pada alam semesta. Sebab dia hanya mempercayai apa yang bisa diamati melalui otak fisikanya.
Dan bagaimana dengan hati Hawking tentang Tuhan? Saya tidak tahu, meski saya menyelipkan kata atheits dalam tulisan tiga judul ini pada pembahasan artikel ke dua, titik tekan saya tetap pada jalan sains dalam pencarian Tuhan.
Wallahu A’lam!