Rabu, 15 Agustus 2012

Stephen Hawking: Tuhan dan Alien

Pernah di suatu blog saya membaca sebuah judul tulisan, ” Stephen William Hawking masuk Islam”, yang saya anggap blog itu terlalu mengada-ngada, apalagi isinya hanya dua video youtube tanpa keterangan tulisan yang jelas.
Untuk Hawking, tentu saya sangat tertarik mengikuti alasan dan kebenaran beritanya itu. Dan ketika berusaha mencari pernyataan Hawking tentang Tuhan dari berbagai sumber, saya menyimpulkan dia seorang agnostik. Hal itu saya ketahui dari berbagai informasi yang mengulas pidato dan tulisannya yang beberapa kali pernah menyebut nama “Tuhan”, tentu Tuhan bagi dia tidak akan sama dengan apa yang dipahami Islam atau mungkin juga Kristen.
Seperti pernyataanya bahwa dia religius, tapi bukan “religius” dalam arti normal, meski begitu dia percaya“Jagat raya diatur oleh hukum-hukum sains. Hukum-hukum ini bisa saja didekritkan oleh Tuhan, tapi Tuhan tidak ikut campur untuk melanggar hukum-hukum itu”.
Saya anggap pernyataan itu, Hawking percaya Tuhan, tapi dia tidak percaya ada keajaiaban di luar akal manusia di alam semesta dalam bentuk apapun, termasuk mukjizat para Nabi. Sebab itu bentuk pelanggaran hukum alam, hukum fisika khususnya. Hawking hanya menganggap alam semesta dan hukum-hukumnya diciptakan Tuhan, dan setelah itu Tuhan lepas tangan, selanjutnya alam semesta bekerja sesuai hukumnya.
Kenapa Hawking menganggap Tuhan tidak ikut campur untuk melanggar hukum-hukum itu? sebab melalui teori “Kuantum”nya “alam semesta ini tanpa pangkal ujung”, karena adanya waktu nyata (waktu manusia) dan waktu maya (waktu Tuhan).
Di waktu nyata waktu hanya berjalan ke depan dengan tetap menuju nanti, besok, lusa, minggu depan, dan selanjutnya (tidak bisa kembali). Sedangkan di waktu maya (waktu Tuhan) kita bisa pergi kemana saja menembus ruang dan waktu yang ada di alam semesta, pergi ke masa lalu dan ke masa depan, atau berkunjung ke kehidupan yang ada di planet lain dalam waktu  “seketika”.
Teori ini pernah dipakai untuk merasionalkan perjalanan “Isra Mi’raj” Rasulullah SAW. Menarik bagi saya dikaitkan dengan teori Kuantum, tapi tidak percaya sepenuhnya perjalanan Rasulullah SAW seperti itu, meski menenangkan pikiran karena lebih bisa diterima akal!
Dan yang menarik dari waktu maya menurut Hawking adalah, dimana masa depan dan masa lalu tidak ada bedanya. Maka Kiamat, sebetulnya sudah terjadi (selesai) saat alam semesta ini pertama kali tercipta dengan diawali dentuman besar (big bang). Simpelnya, kiamat sudah terjadi bersamaan dengan terjadinya dentuman besar (big bang).
Dan menurut saya, rasional jika Hawking mengatakan Tuhan tidak ikut campur melanggar hukum alam. Sebab hukum alam dianggap masih dan telah terjadi, karena kehidupan kita berada di waktu nyata, sedangkan bagi Tuhan, masa lalu sekarang dan nanti tidak ada bedanya. Jadi, Tuhan sudah selesai menciptakan dan mengkiamatkan alam ini. (menarik untuk renungan Muslim, umumnya untuk yang mengaku Tuhan ada).
Akan tetapi, pada bulan September tahun 2010, Hawking menunjukan pandangan baru terhadap alam semesta dan Tuhan. Dia mengatakan bahwa alam semesta tidak membutuhkan Tuhan untuk membangun (menciptakan) dirinya sendiri. Hawking menulis dalam bukunya, The Grand Design, bahwa “Karena adanya hukum seperti gravitasi, tata surya dapat dan akan membentuk dirinya sendiri. Penciptaan spontan adalah alasannya mengapa sekarang ada ’sesuatu’ dan bukannya kehampaan, mengapa alam semesta ada dan kita ada. Tidak perlu memohon kepada Tuhan untuk memulai segalanya dan menggerakan alam semesta.
Pandangan terbarunya itu, yang ditulis di dalam buku The Grand Design, tidak membuat saya senang (fans berat, hihihi). Karena sikapnya yang melepaskan Tuhan dalam peran alam semesta. Namun, tidak pula merubah kekaguman saya pada dirinya yang begitu berani dan tetap semangat meski kelumpuhan terus membuatnya nampak payah. Saya selalu berusaha mengikuti jalan pikiran sains meski paham agama begitu melekat di hati dan pikiran saya.


Tentang Alien dan Tuhan.
Fisikawan Inggris, Stephen Hawking: kasamaproject.org
Fisikawan Inggris, Stephen Hawking: kasamaproject.org
Jika di dalam buku “A Brief History of Time” yang diterbitkan tahun 1988, Hawking tidak menapikan turut campurnya Tuhan dalam penciptaan alam semesta. Sedangkan di buku The Grand Design yang baru terbitan tahun 2010, dia melepaskan Tuhan dari proses penciptaan alam semesta. Adanya gravitasi di alam semesta, itu menjadi salah satu alasan alam semesta tidak membutuhkan Tuhan untuk membangun dirinya sendiri.
Di buku yang terbarunya itu, Hawking bukan hanya menentang pernyataan Isaac Newton tentang adanya Pencipta di alam semesta, tapi dia juga sepertinya mau menghabisi mentah-mentah pernyataannya tentang keberadaan Tuhan di dalam bukunya yang terdahulu, “A Brief History of Time”.
Saya memang ragu memposisikan Hawking termasuk agnostik atau atheits, Percaya tuhan atau tidak. Namun, sedari awal Hawking sudah serin mengatakan bahwa Tuhan yang ia pahami, tidak sama seperti yang di pahami di dalam agama. Hal itu bisa dipahami dari penyataannya, “Tidak religius secara akal sehat” dan ia percaya bahwa “alam semesta diatur oleh hukum ilmu pengetahuan. Hukum tersebut mungkin dibuat oleh Tuhan, tetapi Tuhan tidak melakukan intervensi untuk melanggar hukum.”
Dan di banyak tempat (media), Hawking sering menggunakan kata “mungkin” untuk keberadaan Tuhan,. hal itu menunjukan perjalanan dan perjuangan Hawking yang belum menyatakan finish terhadap Tuhan, meski di bukunya “A Brief History of Time” Tuhan begitu melekat di dalam pikirannya.
Sepertinya Hawking sudah menemukan akhir perjalanan dalam teka-teki dari mana alam semesta berasal. The Grand Design, di bukunya yang ini, campur tangan Tuhan dilepaskan dari alam semesta, Hawking tidak membutuhkan Tuhan untuk menciptakan alam semesta ini. Semuanya bisa berdiri dengan sendiri, hukum gravitasi bisa membuat alam semesta ini.
Apakah lagi-lagi harus difahami secara metaforis Tuhan yang disebutkan Hawking? Saya mengabil tindakan di tulisan ini, Hawking memang sudah tidak percaya Tuhan. Sebab seringnya melihat kata “mungkin” di dalam keberadaan Tuhan ketika dia masih dianggap “percaya, agnostic”, saya mulai memberi tanda kutip pada makna “Tuhan” itu. Hawking masih mempunyai keraguan besar akan keberadaan Tuhan.
Melihat dirinya sebagai seorang ilmuwan fisika, memang wajar jika Tuhan terus diseret ke dalam kajian fisikanya yang berkaitan dengan alam semesta, yang akhirnya akan membawa kesimpulan pada “ada atau tidak” Tuhan ketika pengetahuan baru tentang sains mulai ditemukan atau lebih diyakini kebenarannya. Dan Hawking yakin alam semesta bisa berdiri sendiri tanpa campur Tuhan. Tuhan hilang di “pikiran” Hawking.
Perjalanan pikiran sains memang akan seperti itu, ketika hasil pengamatannya membawa pada kesimpulan seperti yang diyakini Hawking, alam semesta tidak membutuhkan campur tangan Tuhan, maka dia akan meyakini hal itu.  Sebab bagi Hawking, dia hanya mempercayai apa yang bisa ia amati. Dan Tuhan, tidak bisa ia amati. Maka hukum gravitasi (dan proses yang lainnya) lebih dipercaya mampu membangun alam semesta ketimbang Tuhan yang belum bisa diamati Hawking.

saya mengambil kesimpulan, Ilmuwan astrofisika Stephen Hawking sudah melepaskan Tuhan di dalam fisikanya. Spontanitas terjadinya alam semesta dan kekuatan hukum gravitasi, membuatnya yakin alam semesta berdiri dengan sendiri.
Harus diingat pula, perbincangan tentang alam semesta yang berdiri sendiri, bukan hanya terjadi di kalangan saintis, itu juga menjadi dialog panjang para filosof, dan semuanya tidak ada yang memberi kesimpulan memuaskan, menurut saya. Tentang Tuhan ada atau tidak, semuanya belum jelas, dan akan menjadi dialog yang terus berlanjut di dalam sains dan filsafat.
Ilustrasi, alien : http://www.guardian.co.uk/
Ilustrasi, alien : http://www.guardian.co.uk/
Tentang Alien
Ilmuwan Fisika Teoritis ini, Hawking, mempunyai pandangan yang sangat berani menyoal keberadaan makhluk biologis yang berada di luar angkasa, atau lebih tepatnya alien. Hawking dengan perhitungan otak matematisnya, nampaknya yakin bahwa alien yang mempunyai kecerdasan jauh melampui manusia benar-benar ada. Bahkan keberadaan mereka bukan saja menghuni di planet-planet, bisa saja di sebuah bintang, atau melayang di ruang hampa alam semesta.
Perhitungan matematika Hawking yang menganggap alam semesta begitu luas dengan 100 miliar galaksi dan belum lagi jumlah ratusan milyaran planetnya, juga memperhitungkan ruang kosong di alam semesta yang begitu luasnya, menganggap sangat rasional jika alien ada.
Sungguh pandangan yang sangat berani, menurut saya. Perhitugan matematis Hawkin ini, bukan hanya berhenti di makhluk alien itu ada dan kecerdasannya lebih baik dari manusia atau teknologinya yang lebih maju. Tapi, Hawking melanjutkan dengan pikiranya yang pesimis untuk kehidupan di Bumi, sebab keberadaan alien itu bisa mengancam kehidupan manusia.
Tidak berhenti di situ, Hawking pun menyarankan agar manusia menghentikan kontak dengan alien, sebab itu sama saja mengundang bencana ke Bumi. Sungguh pandangan yang sangat kontroversial. Padahal, belum lama ini Kompas.com menayangkan berita tentang himbauan ilmuwan bersama National Geographic agar kita mengirimkan pesan pada makhluk luar angkasa. Inti dari berita itu, Alien berarti tidak mempunyai potensi membahayakan Bumi. (Lengkapnya disini)
Hawking, menurut saya, meski menyebutkan itu hasil pemikiran matematisnya, terlalu berlebihan mendeskripsikan tentang alien, apalagi potensinya yang bisa memberi ancaman pada kehidupan di Bumi.
Saya tidak punya kata yang lebih baik untuk menanggapi pernyataan Hawking tentang alien yang terkesan canggih dan jahat selain kata “berlebihan”. Sebab apa yang dikemukakannya itu, terdengar tidak asing jika kita sering melihat film fiksi ilmiah tentang alien.
Mungkin pernyataanya tentang keberadaan alien, secara matematis alam semesta memang mempunyai banyak ruang yang leluasa untuk keberadaan kehidupan biologis selain manusia. Selain itu, teori evolusi pun sepertinya bisa memberi ruang untuk perkembangan kehidupan biologis yang bukan hanya ada di Bumi. Tidak mustahil kehidupan bernyawa bisa bertahan di kondisi yang sangat extreem karena hasil proses evolusi dan adaptasi. Selama ini, konsep kehidupan Bumi memang menjadi parameter untuk keberadaan makhluk bernyawa lainnya yang ada di luar angkasa. Sehingga planet-planet yang kondisinya berbeda dengan Bumi, selalu dianggap tidak mempunyai potensi untuk menopang kehidupan.
Hawking sepertinya berusaha meninjau jauh, tentang alam semesta saja bisa tercipta (dengan sendirinya) dan Bumi menjadi bukti “suksesnya” suatu kehidupan biologis tumbuh dan bertahan pasca ledakan besar ( Big Bang) sekitar 150 miliar tahun yang lalu. Dan “keajaiban” (baca: kemungkinan) ini, tidak mustahil terjadi di tempat lain yang ada di alam semesta, baik di planet, bintang, bulan, atau bahkan melayang di ruang yang hampa.
Saya pribadi (meski bingung), memang menerima perhitungan “peluang’ matematis Howking itu. Namun, berat rasanya harus menerima mentah-mentah pernyataanya tentang deskripsi alien yang lebih pintar dari manusia, bentuknya aneh, lebih maju teknologinya, dan juga berpotensi mengancam manusia.
Akan tetapi, ada satu hal yang sangat menarik, menurut saya. Hawking begitu yakin dan menganggapnya rasional jika alien (sekarang) memang benar-benar ada melalui perhitungan otak matematisnya. Namun, dengan otak fisikanya dia memutuskan untuk melepaskan campur tangan Tuhan pada penciptan alam semesta dan hukum-hukumnya.
Kenapa untuk alien begitu yakin sedangkan Tuhan tidak? Ini menurut saya, sebab alien berada di dalam alam semesta dan terlibat dengan hukum-hukum fisika. Sedangkan Tuhan mecakupi seluruh semesta dari penciptaan sampai pengendalian hukum-hukumnya, dan Tuhan jelas tidak bisa dijangkau dan diterapkan hukum-hukum fisika yang berlaku pada manusia. Karena itu  Hawking tidak bisa menerima Tuhan harus terlibat pada alam semesta. Sebab dia hanya mempercayai apa yang bisa diamati melalui otak fisikanya.
Dan bagaimana dengan hati Hawking tentang Tuhan? Saya tidak tahu, meski saya menyelipkan kata atheits dalam tulisan tiga judul ini pada pembahasan artikel ke dua, titik tekan saya tetap pada jalan sains dalam pencarian Tuhan.
Wallahu A’lam!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar